Hal
mendasar yang harus dipikirkan oleh wartawan yang hendak mengangkat peristiwa
sebagai bahan investigasi adalah kepentingannya terhadap masyarakat umum.
Pertanyaan-pertanyaan apakah kasus itu bermanfaat bagi masyarakat? apakah
pengungkapan kasus ini akan membuat jera orang lain yang merugikan masyarakat
umum? Atau apakah kasus itu berpotensi mengubah sosial kemasyarakatannya untuk
lebih baik? Jika jawabannya ‘iya’, maka kasus itu bisa dijadikan liputan investigasi
yang bakal dibaca dan bermanfaat untuk kebaikan bersama. Jangan sampai ada
alasan klise bahwa pengungkapan suatu peristiwa untuk memasukkan koruptor ke
penjara.
Ada
beberapa hal yang penting untuk diperhatikan oleh wartawan yang ingin menulis
berita investigatif.
1. Memilih topik
Banyak
peristiwa yang bisa dijadikan topik untuk penulisan berita investigasi. Tidak
melulu berita investigatif berisi pembunuhan berantai, keterlibatan presiden
dalam skandal, atau permainan perusahaan farmasi di negara-negara berkembang.
Pertimbangkan bahwa seluruh peristiwa pantas dijadikan topik investigasi jika
melibatkan banyak orang, banyak organisasi, uang panas triliunan rupiah, atau
kejahatan yang terus-terus menerus terjadi.
Kepekaan
wartawan akan diuji ketika memilih topik yang hendak dijadikan target. Misalnya
gaji wartawan yang cenderung berada jauh di bawah Upah Minimum Regional (UMR)
‘biasanya’ hanya berhenti pada indept
reporting. Tetapi jika upah minimum ini dialami oleh ribuan buruh di banyak
pabrik, maka bisa menjadi bahan investigasi.
Sama
halnya kasus kekerasan pada anak, bisa dijadikan berita investigasi jika
ancamannya sudah mengkhawatirkan. Tetapi penjualan anak-anak perempuan dapat
dipastikan bisa dijadikan bahan investigasi, bahkan jika hanya satu anak yang
baru diketahui dijual.
2. Sumber data
Sumber
data pertama-tama adalah dokumentasi peristiwa, baik berupa dokumen cetak,
suara, maupun video. Dokumen ini bisa diakses di beberapa lokasi tergantung
dari peristiwa yang mau dituju. Seorang wartawan bisa mengakses internet untuk
mengetahui peristiwa yang sama beberapa tahun belakangan.
Ia
juga bisa datang ke perpustakaan daerah untuk membaca buku-buku kimia dan rumus
fisika. Jika media tempat ia bekerja sudah memiliki tim dokumentasi, maka dia
bisa menggali arsip pemberitaan.
Data-data
ini harus didapatkan terlebih dahulu sebelum ia yakin bahwa ada sesuatu yang
‘bernilai berita investigatif’ dari peristiwa itu. Jika data sudah terkumpul
maka ia akan mendapatkan gambaran awal terkait peristiwa. Tinggal wartawan beri
alasan apakah peristiwa itu pantas dilanjutkan atau hanya menjadi berita
interpretatif atau indepth reporting.
3. Observasi
Wartawan
memerlukan observasi langsung ke sumber peristiwa untuk mendapatkan gambaran
yang lebih lengkap. Dengan bantuan data yang baik, wartawan akan mengetahui
dari mana ia harus memulai observasi. Data ini juga akan membantu wartawan
untuk memilah dan memilih mana yang penting dan tidak penting ketika berada di
lapangan. Sehingga waktu melakukan observasi bisa lebih singkat namun
menghasilkan data tambahan yang lebih padat.
Melakukan
observasi ini sering kali tidak sekadar mengamati pelaksanaan suatu peristiwa.
Tidak jarang wartawan investigasi juga harus masuk ke dalam sistem dan menjadi
bagian darinya guna betul-betul memahami obyek. Penyelidikan seperti ini
misalnya terjadi ketika ingin mengetahui beban pekerja pabrik yang digaji jauh
di bawah UMR. Wartawan bisa menyamar menjadi pekerja di pabrik tersebut dan
mencatat setiap aktivitas buruh.
4. Narasumber
Setelah
mengumpulkan data tulisan, rekaman suara, video, dan hasil observasi di
lapangan, seorang wartawan bisa mencari narasumber untuk menguatkan data yang
telah ada. Wawancara dengan narasumber juga dapat memberikan tambahan data yang
akurat terkait beberapa hal yang tidak jelas. Sering kali narasumber memiliki
informasi yang lebih banyak, bahkan narasumber bisa menunjukkan orang-orang
yang terlibat di dalamnya. Sehingga wartawan bisa melacak oranag-orang itu
untuk membuat berita investigasi semakin dalam.
Sebenaranya
untuk menemukan narasumber dalam fase ini lebih mudah karena pencarian data
tertulis dan data observasi sudah dilakukan. Pada dasarnya, setiap
penulisan/record data menunjukkan narasumber yang dapat diwawancarai. Jika
wartawan membaca berita acara pemeriksaan (BAP) kasus pembakaran pasar, maka
wartawan dapat menemukan nama-nama yang terlibat di dalamnya, terutama orang
yang di BAP. Selain itu, kepala kepolisian sebagai penanggung jawab keamanan
dan penanggung jawab adanya BAP itu juga bisa menjadi sumber yang potensial.
5. Organisasi data
Sebagaimana
ilmuwan sosial yang tengah melakukan penyelidikan, wartawan juga harus
mengorganisasi seluruh data yang telah didapat. Berdasarkan hipotesis yang
telah ditetapkan sebelumnya, wartawan dapat melihat sinkronisasi antara data
dengan hipotesisnya. Kelompokkan data berdasarkan kategori, waktu, sumber,
hingga tingkat kepentingannya. Sehingga telihat satu garis merah yang bisa
menjawab pertanyaan-pertanyaan wartawan sebelum memulai investigasi.
Dari
pengorganisasian data ini wartawan akan dapat menemukan beberapa kekurangan
data yang ada. Ia bisa melakukan pengambilan ulang atau mencari data tambahan,
baik data terekam, observasi, hingga data wawancara. Jika pengorganisasian data
ini dinilai lengkap, maka wartawan bisa menyimpulkannya.
6. Menulis berita
Fase
terakhir fase investigasi reporting adalah
menuliskan seluruh data yang didapatkan wartawan menjadi berita. Teknik-teknik
penulisan berita perlu diperhatikan untuk membuat laporan hasil investigasi
enak dibaca dan tidak memusingkan pembaca. Asas pertama penulisan ini tentunya
adalah bagaimana agar tulisan wartawan bisa difahami masyarakat. Sehingga
tujuan utama investigasi untuk mencapai kepentingan masyarakat umum dapat tercapai.


0 komentar:
Post a Comment