Flicker Images

Home » » Pers dan Jurnalistik

Pers dan Jurnalistik

Posted by CB Blogger

A.     Sejarah Jurnalistik
Jurnalistik berkembang karena manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, baik apa yang ada dalam dirinya maupun apa yang di luar dirinya. Sebagai makhluk yang berfikir, manusia selalu penasaran terhadap apapun, termasuk peristiwa-peristiwa yang terjadi di sekelilingnya. Akibat dari keingintahuan dan rasa penasarannya itu manusia mencari cara bagaimana informasi bisa didapat, dan manusia lainnya berfikir bagaimana informasi itu sampai kepada manusia yang lain.
Sejak awal aktivitas jurnalistik, titik penting yang perlu dicatat adalah mengenai perputaran informasi yang tidak mungkin dapat diketahui semuanya. Karena itu perlu orang lain menuliskannya, mempublikasikannya, dan menyebarkannya.

Beberapa literatur menyebutkan, sejarah awal jurnalistik bisa dilacak dari zaman Romawi Kuno, sekitar 2.000 tahun yang lalu, hingga pada masa Mesir Kuno sekitar 3.000 tahun yang lalu. Mesir saat diperintah oleh Amenhotep III sudah mulai menggunakan daun papirus untuk menginformasikan kejadian di ibu kota kepada perwira dan gubernurnya yang ada di seluruh provinsi (Kusumaningrat, 2012:16).
Kemudian berlanjut pada masa Romawi dipimpin Raja Imam Agung dengan kewajiban menggantungkan setiap informasi penting pada ‘Annales’, yaitu papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Peraturan ini kemudian diteruskan saat Julius Caesar mengambil alih tampuk kepemimpinan Kekaisaran Rowawi pada abad ke 100-44 SM.
Julius Caesar mengganti Annales dengan alat pengumuman lebih baru yang diberi nama Acta Diurna. Dalam bahasa latin, Acta Diurna berarti catatan harian yang berisi proses dan ketetapan hukum. Selain itu, Acta Diurna juga memuat kegiatan-kegiatan senat maupun peristiwa penting di ibu kota.
Setelah ketetapan tersebut diumumkan dalam Acta Diurna, juru tulis pemerintahan membuat salinan kemudian dikirimkan ke gubernur dan pejabat untuk kepentingan informasi. Selain gubernur dan pejabat pemerintahan, terdapat sekelompok tuan tanah dan hartawan yang juga membutuhkan informasi tersebut sehingga memerintahkan budaknya yang bisa membaca dan menulis untuk menyalin pengumuman yang ada di Acta Diurna.
Menurut Effendy (2003: 96) kebutuhan informasi ini akhirnya dicium oleh orang-orang yang disebut Diurnai atau pencatat apa saja yang ada di Acta Diurna. Mereka tidak lagi terdiri dari para budak, melainkan masyarakat umum yang bisa membaca dan menulis. Diurnai ini berlomba memberikan informasi kepada pejabat dan tuan tanah untuk mendapatkan imbalan. Karena adanya kompetisi diantara para Diurnai, mereka akhirnya tidak hanya memberikan informasi yang ada di dalam kota ataupun di Acta Diurna, tetapi juga membawa informasi dari tempat lain hingga luar kota. Pendatang yang ada di pelabuhan dan pengingapan-penginapan juga didatangi oleh Diurnai untuk memperoleh informasi dari luar kota.
Banyak literatur yang menganggap Julius Caesar sebagai bapak pers dunia karena inovasinya dalam pelaporan kegiatan senat untuk umum melalui Acta Diurna. Sedangkan nama diurnai yang pertama-tama adalah Julius Rusticus, Chrestus, dan Marcus Caelius. Rusticus sendiri merupakah salah seorang Diurnai cakap yang turut menjual informasi di masa Julius Caesar. Effendy (2003:97) dalam bukunya, Ilmu, Teori, dan Filsafat Komunikasi, menjelaskan, Julius Rusticus dihukum gantung gara-gara menyebarkan informasi yang seharusnya masih bersifat rahasia.
Seorang ahli sejarah, Tacitus juga menceritakan bahwa Chrestus dan Marcus bekerja pada pemesan (abone) bernama Cicero, yang bertindak sebagai konsul muda di Asia Kecil. Suatu hari Cicero memarahi Chrestus karena pemberitahuannya tentang para gladiator dan persidangan pengadilan dibesar-besarkan. Dan Marcus pernah dimarahi oleh Cicero karena mengirimkan berita yang lebih lambat dibandingkan Chrestus.
Dari sejarah awal jurnalistik ini bisa bisa diketahui ciri-ciri pers pada masa itu, yakni :
1.   Subyek penyajiannya berupa pemerintah.
2.   Jurnalis atau wartawannya (diurnai) adalah perantara penyiaran.
3.   Alat penyiarannya berupa papan pengumuman, catatan yang diperbanyak, dan penyampaian melalui lisan.
Ketika Romawi runtuh, kegiatan jurnalistik otomatis terhenti. Namun kebutuhan akan informasi yang baru terus membuat manusia penasaran sehingga aktivitas jurnalistik kembali muncul. Mengenai surat kabar pertama yang terbit secara berkala terjadi perbedaan pendapat. Ada yang mengatakan bahwa surat kabar pertama ini terbit di Cina bernama King Pao pada tahun 911. Surat kabar ini dianggap tertua di dunia oleh Willem Haversmit dalam bukunya De Courant.
Surat kabar cetak King Pao awalnya terbit tidak teratur lalu berubah menjadi mingguan pada tahun 1351. Namun penerbitan King Pao sendiri tidak bisa dilacak secara pasti, sehingga banyak perdebatan tentang surat kabar pertama. Karena pada tahun 1595 diketahui pula ada surat kabar cetak yang isinya berupa propaganda pemerintahan yang diterbitkan oleh Jenderal Hendrik dari Bilderbeek di Keulen. (Suhandang, 2010:31).
Beberapa ahli lainnya berpendapat surat kabar di Belanda; Tydingen Uit Verscheyde Quartieren yang diterbitkan pada tahun 1618 merupakan penerbitan surat kabar tertua. Koran kuno ini ditemukan oleh sejarahwan Swedia, Folke Dahl dari Perpustakaan Kerajaan Belanda pada tahun 1938. Santana (2005:11) menyebutkan Eropa Barat sebagai tanah kelahiran institusi sosial ‘mesin pers’ yang akhirnya menjadi wilayah awal pertumbuhan jurnalistik. Ia menyontohkan Belgia, sebagai Niewa Tydingen (All News atau kumpulan berita). Di sana juga terbit surat kabar yang pertama dalam sejarah dunia pada tahun 1605 bernama Vramma Vergevena di Antwerp.
Selain yang disebutkan di atas, termasuk jajaran surat kabar generasi pertama yang terbit secara teratur di Jerman adalah Aviso di Wolfenbttel dan Relations di Strasbourg pada tahun 1609. Tak lama kemudian, surat kabar-surat kabar lainnya muncul di Belanda (1618), Inggris (1620), dan Italia (1636). Surat kabar-surat kabar pada abad ke 17 ini bertiras sekitar 100sampai 200 eksemplar sekali terbit, meskipun Franfurter Journal pada tahun 1680 sudah memiliki tiras 1.500 sekali terbit. (Kusumaningrat, 2012). 
Penggunaan istilah ‘News Paper’ atau ‘Koran/Surat Kabar’ pertama kalinya adalah Henry Muddiman, editor Oxford Gazette pada tahun 1665. Oxford yang kemudian berubah nama menjadi London Gazette ini yang disebut Effendy (2003:97) sebagai ‘benar-benar surat kabar’ yang pertama-tama.
Harus diakui bahwa munculnya surat kabar cetak lebih lambat dibandingkan penemuan mesin cetak oleh Johannes Gutenberg di Jerman sekitar tahun 1440. Namun sebab penemuan mesin cetak inilah yang mengubah secara drastis industri jurnalistik yang ada di Eropa, dan pada gilirannya mengubah industri informasi di seluruh dunia. Pada awalnya, aktivitas jurnalistik yang berkembang di Romawi hanya bertugas menyampaikan informasi (to inform). Sejak penemuan mesin cetak yang berhasil mempengaruhi penyebaran surat kabar, fungsi aktivitas jurnalistik berkembang mengalami pengembangan, diantaranya : untuk mempengaruhi (to influence), untuk menghibur (entertainment), untuk mendidik (to educate), hingga untuk kontrol sosial (social control).
Jurnalistik di Indonesia sendiri lahir sejak masa kolonialisme Belanda pada abad ke 18. Pendudukan Belanda membuat kaum pribumi mengalami kesulitan di berbagai bidang hingga menyebabkan kemunduran di bidang ekonomi hingga pendidikan. Tak ayal, kebanyakan bangsa Indonesia tidak memiliki kemampuan baca tulis yang memadai.
Sehingga ketika terbit surat kabar cetak untuk pertama kalinya di Indonesia Bataviasche Nouvelles pada Agustus 1744 sampai Juni 1746 masihlah berbahasa Belanda. Bisa dikatakan, surat kabar ini diperuntukkan untuk orang Belanda atau etnis Tionghoa yang kebanyakan dapat membaca dan menulis.
Jika dilihat lebih jauh, sebenarnya kantor dagang Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC) sudah menerbitkan surat kabar pada tahun 1615 atas perintah Jan Pieterzoon Coen yang menjadi Gubernur VOC pada tahun 1619. Namun surat kabar bernama ‘Memories der Nouvelles’ ini masih ditulis tangan sehingga tidak merupakan surat kabar cetak.
 Karena mesin cetak baru datang ke Indonesia pada tahun 1688 dari Belanda yang lebih banyak digunakan untuk menyetak ketentuan-ketentuan perjanjian antara Belanda dengan Sultan Makassar. (wikipedia) Selain itu, ada pula penerbitan surat kabar ‘Vendu News’pada tahun 1776 di Jakarta yang dikhususkan berita lelang. (Effendy, 2003103).
Berturut-turut kemudian muncul surat kabar lainnya, seperti Bataviasche Courant (1817), dan Bataviasche Advertentieblad (1827). Surat kabar yang terakhir ini merupakan bikinan pria asal Rotterdam, W Bruining yang dipercaya sebagai pembawa alat percetakan pertama ke Indonesia (Surjomihardjo, dalam Rahmania, 2014). Setelah itu barulah muncul surat kabar yang berbahasa melayu yang bisa dibaca oleh pribumi, Bianglala (1854), Soerat Kabar Bahasa Melajoe pada (1856) dan Bromartani pada tahun (1885). Meskipun berbahasa melayu, namun kebanyakan surat kabar yang terbit pada masa itu diterbitkan oleh asing.
Sejarah pers abad 20 ditandai dengan munculnya koran pertama milik bangsa Indonesia. Modal dari bangsa Indonesia dan untuk bangsa Indonesia, yakni Medan Prijaji, yang terbit di Bandung. Medan Prijaji yang dimiliki dan dikelola oleh Tirto Hadisurjo alias Raden Mas Djokomo ini pada mulanya, yakni pada tahun 1907 masih berbentuk mingguan, kemudian pada tahun 1910 diubah menjadi harian. Tirto Hadisurjo ini dianggap sebagai pelopor yang meletakkan dasar jurnalistik modern di Indonesia, baik dalam cara pemberitaan, pemuatan karangan, iklan, dan lain-lain (Effendy, 2003:105).
Pers Indonesia sendiri lahir karena Politik Etis (Etische Politiek) yang digunakan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1901 hingga mendorong terbentuknya kelompok sosial baru yang dikenal dengan sebutan golongan elite modern atau Priyayi Baru (Van Niel, 1984; dan Frederick, 1989; dalam Suwirta, 1999). Kelompok sosial berpendidikan ini yang kemudian bergerak menuju pergerakan jalur diplomasi dan tulisan –jurnalistik. Sehingga banyak sejarahwan menganggap, pers menjadi kunci pergerakan kebangsaan dan nasionalisme pada abad ke 20 untuk merebut kemerdekaan RI, di samping perjuangan secara fisik.
Terbukti, setelah Medan Prijaji terbit dan Tirto Hadisurjo dibuang oleh Belanda ke Pulau Bacan, muncul surat kabar beruntun yang diprakarsai oleh pribumi. Misalnya organisasi politik pertama di Indonesia, Budi Oetomo yang berdiri pada tahun 1908 memiliki tiga surat kabar, yaitu Darmokondo, Retnodhoemilah, dan Goeroe Desa. Darmokondo, menurut Effendy (2003:105) awalnya terbit dua kali seminggu berubah menjadi harian, lalu berubah nama menjadi Pewarta Oemom yang menjadi corong dari Partai Indonesia Raya.
Lalu terbit surat kabar Sarotama, Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Pantjaean Warta, SinarDjawa, dan Medan Moeslimin, yang semuanya membawa suara Sarekat Islam. Tak ketinggalan, National Indische Partij menerbitkan surat kabar Penggugah, De Expres, Het Tijdschrift, Tjahaja Timoer, dan Persatoean Hindia. (Effendy, 2003; Suwirta, 1999).
Tidak dapat dipungkiri pula, hadirnya tokoh-tokoh penting pergerakan kemrdekaan Indonesia dari jalur diplomasi juga memiliki dan atau menjadi pimpinan redaksi/redaktur di beberapa surat kabar. Misalnya Ir. Soekarno menjadi pemimpin redaksi Fikiran Ra’jat dan Persatoean Indonesia. Hos Tjokroaminoto memimpin redaksi Oetoesan Hindia dan Sinar Djawa. Douwes Dekker, Ki Hajar Dewantara, dan Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo mengelola De Express.
Semaoen memimpin Sinar Djawa. Ki Hadjar Dewantara adalah pemimpin redaksi Persatoean Hindia. Mohammad Hatta dibantu oleh Sjahrir memimpin Daulat Ra’jat. Amir Sjarifuddin menjadi pimpinan redaksi Benteng. Dan Agus Salim menjadi pimpinan redaksi Neratja.
Perkembangan pers pada abad ke 20 menarik dicatat karena saat itu bermunculan suratkabar yang menyerukan ideologi yang dianut oleh para tokoh, maupun menyuarakan idealisme organisasi. Misalnya, Jong Java memiliki surat kabar Jong Java yang banyak diisi oleh golongan terdidik di Jawa. Muhammadiyah juga memiliki surat kabar Soeara Mohammadiyah, Pandji Islam, Penaboer, dan Adil. Bagi yang lebih radikal dan revolusioner memiliki Medan Moeslimin yang dipimpin oleh Marco Kartodikromo, Sinar Djawa, Doenia Bergerak, Ra’jat Bergerak, Njala, Pemberita dan lainnya. Selain suratkabar yang menjadi suara organisasi atau ideologi terntentu hadir pula suratkabar Tionghoa dan suratkabar yang ditujukan untuk orang-orang Keling (India), yaitu Pemberita India. Suratkabar ini diterbitkan di Padang. (Yuliantri, 2012; Suwirta, 1999).
Pasca kekalahan Belanda terhadap Jepang, pers mendapat kedudukan yang sama. Baik Belanda maupun Jepang, menganggap pers sebagai alat pemerintah untuk memberitakan apa yang diingini oleh pemerintah; ditambah untuk memenangkan perang dan menciptakan persemakmuran asia timur raya pada masa Jepang. Walaupun kebebasan tidak ada, bila dibandingkan dengan kehidupan pers pada zaman Belanda sekalipun, namun ada beberapa manfaat yang bisa diperoleh bangsa Indonesia dari pengalaman hidupnya yang keras pada zaman Jepang.
Misalnya untuk pertama kali bangsa Indonesia, khususnya bagi para tokoh pergerakan dan pers, diperkenalkan dengan cara-cara propaganda dan mobilisasi massa yang efektif melalui berbagai media untuk menggalang kekuatan rakyat di satu sisi serta menghancurkan dan melemahkan semangat musuh di sisi lain (Kurasawa, 1993 dalam Suwirta, 1999).
Perjalanan jurnalistik di Indonesia masih panjang, namun yang pasti lambat laut jurnalistik Indonesia menuju ke azaz demokrasi. Di awal pemerintahan Soekarno pers bebas menyuarakan ketimpangan sosial maupun keberhasilan pembangunan dengan tanggung jawab secara personal. Secara garis besar, pers pada masa Soekarno terpecah menjadi dua, satu sisi pro pemerintah, dan di sisi lain ikut oposisi. Ketika orde baru menumbangkan Soekarno, pers berubah menjadi agen pemerintah untuk menyuarakan pembangunan yang dilakukan pemerintah. Pers dikekang menggunakan sistem pers otoriter, yang mana tanggung jawab pers adalah kepada pemerintah. Pada masa orde baru inilah, tiga surat kabar dibredel dengan mencabut surat izin usaha penerbitan pers (SIUPP), yaitu Tempo, Editor, dan Detik (koran).
B.  Definisi dan Konsep
Jurnalistik merupakan kosakata Bahasa Indonesia hasil serapan dari Bahasa Inggris ‘Journalism’ atau Bahasa Belanda ‘Journalistiek’. Asal mula kata journalistik ini bisa ditelisik dari bahasa latin, diurnal yang berarti ‘harian’ atau ‘setiap hari’. Sehingga jurnalistik secara etimologi (bahasa) bisa diartikan sebagai catatan harian atau catatan yang terbit setiap hari. Catatan ini pun harus bersifat khusus dan melalui metode-metode tertentu sehingga bisa dikatakan sebagai aktivitas jurnalistik.
Memahami perkembangan jurnalistik, mulai penerbitan Acta Diurna hingga kemunculan surat kabar harian, maka pengertian jurnalistik juga turut berkembang. Awalnya jurnalistik hanya dipahami sebagai catatan berisi informasi yang disebarkan ke publik. Namun kini, kerja jurnalistik yang menghasilkan surat kabar dapat digunakan untuk propaganda dan mengontrol pemerintahan. Effendy (2003:93) menyebutkan, surat kabar juga memiliki kemampuan persuasif, yakni mengajak dan meyakinkan khalayak pembacanya untuk berbuat sesuatu atau tidak melakukan sesuatu.
Pengertian jurnalistik juga bisa dilihat dari asal kata pembentuknya, yakni journal dan istik. Jurnal merujuk pada istilah diurna yang berarti ‘hari ini’. Sedangkan istik merujuk pada kata estetika yang berarti ilmu pengetahuan tentang keindahan. (Pringgodigdo dalam Suhandang, 2010:13). Dari arti kata tersebut dapat disimpulkan bahwa jurnalistik dimaksudkan sebagai seni untuk mengolah aktivitas sehari-hari dalam suatu catatan yang bisa dinikmati masyarakat.
Selain menggunakan arti secara etimologi, memahami arti jurnalistik juga bisa dilihat dari terminologi atau konseptual. Menurut Suryawati (2011:4) konsep jurnalistik mengandung tiga pengertian :
-   Jurnalistik adalah proses aktivitas atau kegiatan mencari, mengumpulkan, menyusun, mengolah, mengedit, menyajikan, dan menyebarluaskan berita kepada khalayak melalui saluran media massa.
-   Jurnalistik adalah keahlian (expertise) atau keterampilan (skill) menulis karya jurnalistik; termasuk di dalamnya pencarian berita, peliputan peristiwa (reportase), dan wawancara (interview).
-   Jurnalistik adalah bagian dari bidang kahian komunikasi/publisitik, khususnya mengenai pembuatan dan penyebarluasan informasi melalui media massa. Jurnalistik tergolong sebagai ilmu terapan yang sifatnya dinamis dan terus berkembang seiring perkembangan teknologi informasi dan komunikasi, serta dinamika masyarakat itu sendiri.
Suhandang (2010:21) dalam bukunya yang berjudul Pengantar Jurnalistik, menulis pengertian jurnalistik sebagai seni dan keterampilan mencari, mengumpulkan, mengolah, menyusun, dan menyajikan berita tentang peristiwa yang terjadi sehari-hari secara indah, dalam rangka memenuhi segala kebutuhan hati nurani khalayaknya, sehingga terjadi perubahan sikap, sifat, pendapat, dan perilaku khalayak sesuai dengan kehendak para jurnalisnya. Suhandang juga menyuplik pendapat Adinegoro (1963) yang membedakan jurnalistik dan publisistik. Jurnalistik lebih ditekankan pada kepandaian praktis, sedangkan publisistik lebih kepada kepandaian ilmiah.
Beberapa pakar membuat pengertian tersendiri mengenai jurnalistik sesuai dengan keilmuan dan pengalamannya. Misalnya Onong Uchjana Effendy (2003:95) menyebutkan jurnalistik sebagai teknik mengelola berita mulai dari mendapatkan bahan sampai pada menyebarluaskannya kepada khalayak. Dalam Suhandang, dipaparkan beberapa pandangan pakar mengenai pengertian jurnalistik ini: Adinegoro (1963) mengatakan jurnalistik adalah salah satu obyek di samping obyek-obyek lainnya dari ilmu publisistik, yang mempelajari seluk beluk penyiaran berita-berita dalam keseluruhannya dengan meninjau segala saluran, bukan saja pers, tapi juga radio, televisi, film, teater, rapat-rapat umum, dan segala lapangan.
Pengertian lain juga disampaikan Astrid S. Susanto (1986:73 dalam Suhandang, 2010:21) dalam bukunya Komunikasi Massa mendefinisikan jurnalistik sebagai kejadian pencatatan dan atau pelaporan serta penyebaran tentang kejadian sehari-hari. Sedangkan A.W. Widjaja (1986:27, dalam Suhandang, 2010:21) berpendapat jurnalistik merupakan kegiatan komunikasi yang dilakukan engan cara menyiarkan berita ataupun ulasannya mengenai berbagai peristiwa atau kejadian sehari-hari yang aktual dan faktual dalam waktu yang secepat-cepatnya. Ensiklopedi Indonesia juga merinci tentang arti jurnalistik, yaitu bidang profesi yang mengusahakan penyajian informasi tentang kejadian dan atau kehidupan sehari-hari (pada hakikatnya dalambentuk penerangan, penafsiran, dan pengkajian) secara berkala, dengan menggunakan sarana-sarana penerbitan yang ada.
Jurnalistik secara praktis dapat kita pahami dari cara kerja media massa yang dihasilkannya. Pada awalnya jurnalistik selalu diidentikkan dengan media massa cetak karena perkembangan teknologi yang belum dapat menggunakan media massa elektronik. Seiring dengan majunya ilmu pengetahuan dan teknologi, aktivitas jurnalistik juga turut berevolusi, mulai dari radio, televisi, hingga cyber. Masing-masing aktivitas jurnalistik pada media tertentu memiliki kekhasan sehingga tidak bisa diseragamkan.
Karakteristik dan perbedaan media massa, antara cetak, radio, dan televisi (Jumadal, 2008):
Cetak
Elektronik/penyiaran
Radio
Televisi
Proses pencetakan
Proses pemancaran/ Transmisi
Proses Pemancaran/ Transmisi
Isi pesan tercetak, dapat dibaca dimana saja dan kapan saja
Isi pesan audio, dapat didengar sekilas sewaktu ada siaran
Isi pesan audiovisual, dapat dilihat dan didengar sekilas sewaktu ada siaran
Isi pesan dapat dibaca berulang-ulang
Tidak dapat diulang
Tidak dapat diulang
Hanya menyajikan peristiwa/pendapat yang telah terjadi
Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang sedang terjadi
Dapat menyajikan peristiwa/pendapat yang sedang terjadi
Tidak dapat menyajikan pendapat narasumber secara langsung (audio)
Dapat menyajikan pendapat (audio) narasumber secara langsung /orisinil
Dapat menyajikan pendapat (audiovisual) narasumber secara langsung /orisinil
Penulisan dibatasi kolom dan halaman
Penulisan dibatasi oleh detik, menit, dan jam
Penulisan dibatasi oleh detik, menit, dan jam
Makna berkala dibatasi oleh hari, minggu, bulan
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
Makna berkala dibatasi oleh detik, menit dan jam
Distribusi melalui transportasi darat/laut dan udara
Distribusi melalui pemancara/transmisi
Distribusi melalui pemancara/transmisi
Bahasa yang digunakan bahasa formal
Bahasa yang digunakan bahasa formal dan non formal (bahasa tutur)
Bahasa yang digunakan bahasa formal dan non formal (bahasa tutur)
Kalimat dapat panjang dan terperinci
Kalimat singkat, padat sederhana dan jelas.
Kalimat singkat, padat sederhana dan jelas.

Tabel 1.1 karakteristik media massa cetak dan elektronik

C.  Jurnalistik, Pers, dan Komunikasi
Dalam kehidupan sehari-hari, kita akan sering mendengar istilah jurnalistik tumpang tindih dengan pers. Keduanya kadang disebut secara bergantian, terpisah, maupun campur aduk. Sehingga kita perlu memahami arti masing-masing istilah tersebut supaya dapat menggunakannya sesuai kebutuhan. Untuk tulisan-tulisan mengenai aktivitas kewartawanan, secara umum istilah pers lebih dikenal. Karena wartawan sering kali berbicara mengenai pers, bahkan id card wartawan pun bertuliskan ‘Pers’.
Di atas sudah dijelaskan arti dan makna jurnalistik baik dari segi etimologi (bahasa) maupun terminologi (istilah). Singkatnya, kita bisa memahami bahwa jurnalistik merupakan aktivitas untuk memperoleh, mengolah, menghasilkan produk jurnalisitk, hingga penyebarannya. Jadi jurnalistik berhubungan dengan cara-cara produk jurnalistik dihasilkan. Seperti etika yang bagus, tidak menerima uang saat peliputan, menulis menggunakan teknis yang sudah distandarisasi, penyuntingan naskah sesuai Ejaan Yang  Disempurnakan (EYD), hingga menerbitkannya sesuai kebutuhan.
Dalam arti sempit, jurnalistik dapat dikatakan sebagai aktivitas yang berkutat pada isi sebuah media massa. Berita yang bagus, feature, opini, hingga editorial atau tajuk rencana yang mumpuni adalah tanggung jawab jurnalistik. Orang yang harus betul-betul memahami keilmuan tentang jurnalistik ini adalah wartawan atau jurnalis. Jurnalis yang sudah lama berkecimpung dalam bidang jurnalistik ini biasanya akan menjabat sebagai redaktur, editor, hingga pimpinan redaksi. Sehingga di tangan mereka inilah kualitas produk jurnalistik dipertaruhkan.
Demikian pula, sebagai sebuah kajian; pers, jurnalistik, dan ilmu komunikasi juga memiliki konsep yang samar untuk dibedakan. Jurnalistik dan atau pers memiliki ragam kajian tersendiri sebagaimana komunikasi. Dalam kajian mereka, media massa menjadi pokok bahasan yang terus-menerus membawa pengembangan keilmuan. Baik media massa sebagai medium, komunikator, khalayak, pesan yang disandikan, hingga pembahasan opini publik yang biasanya diciptakan media massa. Karena itu perlu didefinisikan secara jelas apa perbedaan dan persamaan diantara ketiga istilah tersebut.
1.  Pers dan Jurnalistik
Setelah memahami apa arti jurnalistik dan bagaimana jurnalistik berpengaruh pada media massa, kita bisa beranjak pada pengertian pers. Pers, sebagaimana jurnalistik adalah kata serapan dari bahasa asing. Dalam Bahasa Inggris, pers disebut sebagai ‘press’, artinya; cetak, menekan/mengepres, yang mengacu pada penyebaran surat kabar di awal-awal menggunakan mesin cetak. Hal itu dapat dimaklumi karena sejarah perkembangan awal media massa bermula dari surat kabar cetak. Saat ini, pers sudah jamak digunakan untuk menyebut seluruh media massa baik cetak, elektronik seperti televisi dan radio, maupun online.
Definisi pers biasanya dibedakan dalam dua hal, pengertian pers dalam arti sempit dan pengertian pers dalam arti luas. Pers dalam arti sempit dapat didefinisikan sebagai segala aktivitas jurnalistik yang berhubungan dengan media massa cetak, baik itu surat kabar, majalah, tabloid, buletin, dan lain-lain. Sedangkan pers dalam arti luas dimaknai sebagai segala aktivitas jurnalistik di berbagai media massa, baik cetak, elektronik, maupun online. (Suryawati, 2011; Effendy, 2003; Kusumaningrat, 2012).
Jika dulu orang menyebut pers hanya sebatas surat kabar, sekarang seluruh media massa disebut pers. Hal itu karena saat ini seluruh wartawan tidak membeda-bedakan penyebutan untuk aktivitas mereka di lapangan, baik wartawna yang berbasis cetak, elektronik, maupun online. Apalagi aktivitas wartawan saat ini tidak hanya berkutat pada pemerintahan, pejabat, maupun kepolisian, tetapi sudah merambah hingga masyarakat. Lihatlah berita-berita media massa yang berhubungan dengan penolakan penggusuran, orang sakit parah yang tidak diperhatikan pemerintah daerah, demonstrasi, termasuk berita pemilihan umum. Wartawan bisa secara langsung meminta pendapat masyarakat setempat sehingga suaranya didengar.
Dalam Undang-Undang Nomor 40 Tentang Pers, disebutkan definisi pers sebagai lembaga sosial dan wahana komunikasi massa yang melaksanakan kegiatan jurnalistik meliputi mencari, memperoleh, memiliki, menyimpan, mengolah, dan menyampaikan informasi baik dalam bentuk tulisan, suara, gambar, suara dan gambar, serta data dan grafik maupun dalam bentuk lainnya dengan menggunakan media cetak, media elektronik, dan segala jenis saluran yang tersedia.
Ada dua hal yang penting diperhatikan dalam pengertian pers menurut undang-undang tersebut, yakni pers sebagai lembaga sosial, dan pers sebagai wahana komunikasi massa. Sebagai lembaga sosial, pers berada dalam sistem sosial yang lebih besar, misalnya kemasyarakatan atau negara. Sehingga banyak pakar membuat analisa bahwa kehidupan pers sangat bergantung dari sistem sosial dan politik yang diberlakukan di negara tersebut. Di Indonesia saat ini, pers menganut paham bebas bertanggung jawab. Bebas dalam artian diberi keleluasaan untuk melakukan aktivitas jurnalistik, bertanggung jawab dalam artian harus melaksanakan kaidah jurnalistik dalam melakukan aktivitas tersebut.
Selain itu, pers juga sebagai wahana komunikasi massa, yang berarti ia medium yang digunakan aktivitas jurnalisitk hingga bisa tersebar ke khalayaknya. Pers adalah wadah/wahana bagi komunikasi yang dijalankan oleh media massa. Sehingga bisa disimpulkan bahwa pers adalah gambaran besar dari seluruh aktivitas jurnalistik. Jika aktivitas jurnalistik dimulai dari proses pengumpulan berita hingga penerbitannya, maka pers adalah sistem yang dijalankan oleh media massa tersebut. Bahkan hingga manajemen karyawan, manajemen oplah, penerbitan, hingga penentuan apa yang bagus dan layak untuk diberitakan, itu juga termasuk wilayah kerja pers.
2.  Ilmu Komunikasi
Setelah kita memahami pengertian pers dan jurnalistik, sekarang kita akan memahami bagaimana kaitan dua hal tersebut dengan ilmu komunikasi. Ilmu Komunikasi adalah sebuah ilmu yang membahas pengiriman pesan antara komunikator dengan komunikan. Ilmu Komunikasi akan membahas aspek-aspek apa saja yang ada dalam pengiriman pesan tersebut, misalnya komunikator, pesan itu sendiri, media, noise, komunikan, hingga perubahan yang diakibatkan dari aktivitas tersebut.
Banyak buku yang menempatkan jurnalistik dan pers di bawah lingkup Ilmu Komunikasi. Sehingga orang yang mempelajari ilmu komunikasi secara luas pasti akan mempelajari ilmu tentang pers dan jurnalistik. Ketika kita mempelajari jurnalistik sebagai bagian dari ilmu komunikasi maka kita akan dapat menganalisa siapa komunikator, khalayaknya, hingga isi pesan yang harus disampaikan agar masyarakat terpengaruh.
Effendy (2003) bahkan menyebutkan sejarah ilmu komunikasi sebenarnya muncul dari tradisi jurnalistik. Ia memaparkan secara panjang lebar bahwa awal mula studi ini berasal dari tradisi retorika yang dipelajari sejak masa Yunani dengan tokoh utamanya Plato dan Aristoteles. Kemudian muncul Acta Diurna pada masa Romawi yang kemudian dikembangkan menjadi School of Journalistic oleh Joseph Pulitzer pada tahun 1903, yang membahas ilmu tentang persuratkabaran atau komunikasi massa.
Dari sinilah kemudian berkembang studi yang berkaitan dengan pernyataan antar manusia sehingga timbul konsep komunikasi yang lain, seperti komunikasi intrapersonal, komunikasi interpersonal, komunikasi kelompok, komunikasi organisai, komunikasi antar budaya, hingga komunikasi massa itu sendiri. Keseluruhannya membahas persoalan komunikasi antar manusia, yaitu komunikator, pesan, saluran, komunikan, hingga dampak-dampaknya.
Dari penjelasan tersebut dapatlah difahami, bahwa jurnalistik menjadi penyumbang terbesar kajian Ilmu Komunikasi. Apalagi, antara jurnalistik dan ilmu komunikasi sendiri terdapat beberapa persamaan yang mendasar. Suryawati (2011:17), menyebut ada tiga sumber bahasan yang sama antara jurnalistik dan Ilmu Komunikasi: Sumber, yaitu asal suatu informasi, dan ke mana informasi akan tersalurkan. Pesan, informasi yang ingin disampaikan atau disebarluaskan kepada publik, dan Tujuan, yakni target pemaknaan dari informasi yang disampaikan.
D.  Fungsi Pers
Pers yang menyebarkan produk-produk jurnalistik ke masyarakat luas memiliki fungsi yang tidak sepele. Ia merupakan pilar demokrasi ke empat setelah eksekutif, legislatif, dan yudikatif. Bahkan Napoleon Bonaparte yang ditakuti musuhnya di seluruh negeri jajahan Perancis menegaskan, bahwa ia lebih takut pada pena dari pada sejuta pasukan bersenjata. Hal ini menegaskan bahwa kekuatan media massa yang mampu menyebarkan opini kepada masyarakat luas sangat diperhitungkan.
Tujuh fungsi pers yang ada di bawah ini harus difahami oleh orang-orang yang bertugas di media massa tersebut, maupun masyarakat secara luas. Sehingga wartawan –misalnya- yang bekerja mencari dan menulis berita, bisa melihat apakah ia telah menjalankan tugas berdasarkan fungsinya. Ia juga bisa menilai apakah media massa di mana ia bekerja telah menepati fungsi pers. Bahkan, masyarakat diharapkan memahami fungsi pers untuk mengontrol pers itu sendiri. Karena alat apapun yang diberi kebebasan mutlak, cenderung menyalahkan kebebasannya.
1.  Fungsi Informasi
Fungsi ini menempati urutan pertama dan banyak disebutkan oleh pakar jurnalistik. Karena sejak awal munculnya jurnalistik, fungsi informasi inilah yang dikedepankan. Dalam Acta Diurna misalnya, di sana hanya ada informasi terkait kegiatan senat Romawi yang dipimpin Juleus Caesar, termasuk proses dan ketetapan hukum. Hingga munculnya diurnai (jurnalis awal) pun, yang mereka jual adalah informasi karena informasi menjadi senjata paling ampuh untuk menakhlukkan musuh.
Meskipun Acta Diurna tinggal sejarah, namun pers hingga kini masih menjual informasi sebagai senjata utamanya. Berbagai macam informasi ditampilkan agar khalayaknya tahu. Apalagi manusia adalah makhluk yang selalu ingin tahu, sehingga mereka memperoleh kepuasan dari informasi yang ada di media massa. Maka dari itu, tidak heran bila informasi sangat mahal harganya.
Bagi wartawan, secuil informasi bisa sama berharganya dengan nama baik perusahaan, profesionalisme pekerjaan, hingga peningkatan karir. Pentingnya informasi ini bisa kita amati dari bagaimana ANTV tiba-tiba terkenal gara-gara menayangkan secara langsung peristiwa penggerebekan Dr. Azahari –gembong teroris paling dicari di Asia. Ia ditangkap Densus 88 di Kota Batu dan tak seorang wartawanpun tahu. Tapi wartawan senior Karni Ilyas yang waktu itu menjadi pimpinan redaksi pemberitaan ANTV mengetahui informasinya, meski secuil.
Ia pun menghubungi wartawannya yang ada di Surabaya dan segera memerintahkan ke Malang untuk mendapatkan informasi lengkapnya. Sang wartawan yang tidak mendapat kejelasan akan adanya peristiwa sebesar itu pun kebingungan. Tapi naluri kewartawanan ibarat penciuman yang dimiliki seekor anjing. Dengan cepat ia mengendus ke sana kemari lalu bimsalabim, ia mampu mendapatkan gambar penggerebakan lengkap dengan suara ledakan bom dan aksi penembak jitu pada tahun 2005 lalu.
Karena itu wartawan sebagai penguasa informasi sangat dihargai oleh berbagai kalangan. Karena wartawan dikenal sebagai orang yang mengetahui apa yang tersembunyi, dan kepekaannya mampu menemukan apa yang tidak bisa diendus oleh masyarakat biasa. Seorang wartawan yang bekerja serius dan dalam jangka waktu yang lama, akan memiliki keahlian yang sama dengan seorang dokter ahli, insinyur, ahli botani, ataupun ahli militer. Misalnya, seorang wartawan yang bertugas meliput berita di kantor kepolisian, maka ia akan dengan sendirinya hafal seluruh pasal undang-undang yang berhubungan dengan kriminalitas –pun seorang wartawan militer kawakan akan mampu memprediksi siapa yang akan menjabat sebagai penglima berikutnya.
Bagi masyarakat luas, informasi di media massa yang akurat dan paling pertama muncul akan mendapatkan respon yang luar biasa. Oplah dari media massa tersebut bisa mendadak naik, yang dengan demikian akan meningkatkan iklan yang masuk sehingga semuanya diuntungkan. Karena itu tidak mengherankan bila ada beberapa media tertentu yang mewajibkan wartawannya bekerja sendiri demi mendapatkan eksklusifitas pemberitaan.
2.  Fungsi Kontrol
Fungsi kontrol pers sering diistilahkan sebagai ‘watchdog’ atau anjing penjaga. Dengan kemampuannya menjangkau seluruh lapisan masyarakat, pers menjadi alat yang efektif untuk menyebarkan informasi. Karena itulah banyak orang yang memiliki power takut terhadap pers. Ketakutan ini lebih sering menguntungkan pers dan masyarakat. Sebabnya, apabila seorang pejabat atau pembuat keputusan bermain-main dengan jabatannya, pers bisa menyiarkannya sehingga nama orang tersebut menjadi tercemar.
Siapakah yang perlu dikontrol oleh pers? Pers harus berjuang untuk kebenaran dan rakyat. Sehingga yang patut dikontrol adalah siapapun dan apapun yang bisa menciderai kebenaran, dan mengkhianati rakyat. Biasanya yang perlu dikontrol adalah pemerintah beserta instansi yang menopangnya, seperti kepolisian dan TNI, termasuk kebijakan-kebijakan pemerintah, pengusaha, juga ketertiban umum. Jika masyarakat sendiri yang membuat kebenaran menjadi kabur, maka pers harus berani mengkritisi masyarakat sekalipun.
Pers memiliki keleluasaan untuk melakukan tugasnya di berbagai tempat. Bahkan di beberapa lokasi yang tidak bisa dimasuki masyarakat umum, para wartawan bisa dengan mudah masuk dan mengorek keterangan di sana. Dengan demikian, pers memiliki kesempatan yang lebih luas dibanding profesi lainnya untuk mendapatkan kebenaran. Jika ada yang tidak beres maka pers dapat membuat reportase untuk mengungkapnya, sehingga menjadi perhatian para pemegang kebijakan agar tidak main-main dengan keputusannya.
3.  Fungsi Mendidik
Tanpa disadari pers mengusung fungsi pendidikan dalam setiap penerbitan dan penyiarannya. Baik secara eksplisit maupun implisit, informasi yang ada di berbagai media massa dapat menambah pengetahuan baru bagi masyarakat. Misalnya terdapat berita mengenai penjambretan yang dilakukan oleh segerombolan remaja berkendaraan sepeda motor di jalan-jalan sepi Kota Malang pada jam-jam tertentu, selain membuat orang khawatir, juga terdapat unsur pendidikan: selalu siaga dan jangan membawa barang mewah yang mencolok di jalanan.
Tidak dapat dipungkiri fungsi pertama dari media massa adalah membagikan informasi. Sehingga mau tidak mau, khalayak yang mendapatkan informasi tersebut akan merasa terbantu. Berita-berita seperti habisnya material BPKB, STNK, hingga material print untuk e-KTP pada tahun 2015-2016 sangatlah dibutuhkan masyarakat. Orang yang tidak mendapatkan informasi dari media biasanya kesulitan mengakses informasi dari pihak dinas maupun kepolisian. Sehingga informasi yang ada di media massa bisa sangat membantu.
Dalam rubrikasi media massa, ada yang secara nyata mengusung tentang pendidikan. Misalnya tips-tips cara menghadapi ujian yang diterbitkan satu atau dua minggu menjelang UN. Atau ada pula rubrik resensi yang mengulas buku, film, dan produk seni, dari berbagai sisi. Termasuk produk yang bernilai pendidikan adalah opini, feature, dan artikel yang dibuat oleh masyarakat luas maupun para pekerja persnya. Surat pembaca yang mengetengahkan berbagai persoalan dan pernyataan juga merupakan lahan pendidikan yang bisa membuka mata masyarakat.
4.  Fungsi Menghibur
Fungsi yang satu ini biasanya dialamatkan ke televisi karena kemampuannya untuk mengajak khalayaknya secara langsung. Banyak stasiun televisi yang menjual acara hiburan guna mendapatkan rating bagus, misalnya sinetron atau lawakan yang dibawakan oleh komedian kondang. Program televisi yang sifatnya menghibur seperti Opera Van Java, Goyang Dangdut, sinetron berseri, The Voice, dan berbagai macam film yang dulu sering diputar.
Di radio dan surat kabar, fungsi menghibur ini juga termasuk dominan. Misalnya acara request musik adalah program siaran radio yang sangat digemari masyarakat. Dulu di radio kita juga sering disuguhi ceramah agama oleh KH Zainuddin MZ dan juga program ‘sandiwara radio’ yang mengisahkan kerajaan lama, misalnya kisah Arya Kamandanu dan Tutur Tinular. Sedangkan di surat kabar, rubrik zodiak, review film, teka-teki silang dan gambar-gambar yang menarik termasuk dalam fungsi ini. Sebenarnya bauran produk jurnalistik bisa kita kategorikan dalam beberapa fungsi, misalnya review film, bisa masuk dalam kategori hiburan, pendidikan, juga masuk dalam fungsi informasi.
Dengan fungsi hiburan ini, media massa tidak akan mudah ditinggalkan khalayaknya. Misalnya saat ini sedang digemari film dari India, maka stasiun televisi berlomba-lomba untuk menayangkan film tersebut. Hal itu agar khalayak tidak pindah ke lain stasiun demi menyaksikan film India. Karena itu, stasiun film juga berlomba menarik produk hiburan dari negara lain untuk mendatangkan rating yang bagus. Acara seperti Take Me Out Indonesia dan The Voice Indonesia merupakan contohnya.
5.  Fungsi Mempengaruhi
Pers sebagai sebuah media untuk menghubungkan komunikator dengan masyarakat luas memiliki kemampuan untuk mempengaruhi. Hal itu sebagaimana salah satu fungsi manusia berkomunikasi adalah untuk mempengaruhi agar seseorang percaya, berfikir, melakukan atau tidak melakukan sesuatu yang diharapkan oleh komunikator.
Banyak contoh berita yang dapat mempengaruhi khalayaknya, seperti pemberitaan mengenai Gempa di Pidie, Aceh pada Rabu (7/12) pagi. Berita yang datang terus menerus dari berbagai media massa, baik cetak, elektronik, dan online, membawa simpati dari seluruh penjuru Indonesia. Bahkan tidak sedikit yang kemudian meluangkan waktu, pikiran, dan materi untuk memberikan bantuan kepada masyarakat yang ada di sana.
Berita yang membawa pengaruh besar adalah kasus dugaan penistaan agama yang dilakukan oleh Basuki Tjahaya Purnama alias Ahok. Kasus ini bahkan membuat jutaan massa memenuhi Jakarta pada 4 November dan berpuncak pada 2 Desember 2016 lalu. Banyak kasus yang sebenarnya tidak akan menimbulkan dampak yang besar apabila tidak disebarkan oleh media, baik itu itu media konvensional maupun media sosial.
Jadi persoalan pengaruh-mempengaruhi ini sebenarnya terjadi ketika orang mengetahui suatu informasi. Kebanyakan media hanya dijadikan alat untuk mempengaruhi masyarakat luas. Karena itu, jumpa pers sering dilakukan oleh orang-orang yang ingin mempengaruhi masyarakat, entah dengan opini atau pergerakan. Misalnya kepolisian melakukan jumpa pers karena berhasil menangkap bandar pil koplo bisa diniatkan untuk mempengaruhi masyarakt bahwa kepolisian bekerja keras dan bekerja dengan baik. Begitu pula politisi yang ingin maju sebagai calon kepala daerah bisa mengundang wartawan untuk memberitakan mengenai pemikiran-pemikirannya supaya dipandang sebagai orang yang bijaksana atau orang yang cerdas.
Selain sebagai alat, pers juga bisa memiliki tujuan sendiri untuk mempengaruhi khalayak. Misalnya kantor berita yang didatangi presiden kemudian diberitakan di halaman depan, dimaksudkan untuk mendapatkan legitimasi masyarakat bahwa kantor berita tersebut bermartabat. Adanya tajuk rencana di setiap media juga dimaksudkan untuk hal yang sedemikian. Karena biasanya tajuk rencana berisi opini media tersebut akan suatu persoalan, dan karena media tidak boleh menulis berita berdasarkan subyektifitas, maka mereka menuliskannya dalam kolom atau tajuk rencana.
6.  Fungsi Ekonomi
Diantara sekian fungsi pers, fungsi ekonomi tampaknya tidak berhubungan langsung dengan kebenaran ataupun masyarakat. Karena fungsi ini sejatinya berhubungan dengan pengusaha dan berguna untuk sebagian masyarakat yang membutuhkannya. Termasuk dalam fungsi ini adalah iklan yang bertebaran di media massa. Tanpa adanya media yang bisa menjangkau khalayaknya maka perusahaan juga akan kebingungan untuk memasarkan produknya.
Kebutuhan iklan oleh perusahaan memang besar sehingga banyak pers berlomba-lomba untuk mendapatkannya. Bahkan bisa dikatakan pendapatan media terbesar dari penjualan paket iklan. Sehingga banyak media yang menyediakan space khusus untuk iklan, misalnya rubrik Klasika di Kompas Cetak. Bahkan di beberapa lokasi di perkotaan kita bisa menemukan tempat usaha khusus yang bertugas menampung iklan untuk dikirim ke media massa.
Dalam perkembangan pers saat ini ada media massa cetak yang khusus menerbitkana iklan dari berbagai usaha. Jika diandaikan media massa menjual informasi yang berhubungan dengan sosial, politik, ataupun budaya, maka koran khusus iklan ini juga menjual informasi tentang harga produk tertentu. Selain media cetak, ada pula media online yang khusus menawarkan iklan baris secara gratis. Mereka menjual iklan lain yang di pasang di sana bila web tersebut mendapatkan banyak pengunjung.
E.   Karakteristik Pers
Untuk bisa dikatakan sebagai pers, sebuah produk jurnalistik harus memiliki beberapa karakteristik atau ciri. Dengan mengetahui karakteristik pers, maka kita bisa mengidentifikas apakah suatu produk yang kita di baca atau dengarkan tersebut termasuk media atau tidak. Termasuk apabila kita memahami karakteristik pers maka kita tidak mudah dibohongi oleh selebaran yang memberitakan kasus tertentu atau menimbulkan perdebatan yang berkepanjangan.
Banyak sekali pejabat yang resah ketika didatangi orang yang mengatasnamakan wartawan. Padahal kedatangan wartawan harusnya tidak perlu ditakuti jika kita faham ia dari media apa dan bagaimana kinerja pers. Jika seorang wartawan menyebutkan dari media tertentu, kita harusnya bisa melihat apakah media tersebut sesuai dengan karakteristik pers. Jika memang tidak sesuai karakteristiknya maka kita bisa mengabaikannya dan tidak perlu takut jika wartawan media tersebut mengancam.
1.  Publisitas
Publisitas berarti pers tersebut diterbitkan atau disiarkan untuk umum. Jika sebuah pers tidak diperuntukkan untuk publik maka dia hanya sekadar ‘media’ bukan ‘media massa’. Karena sesuai namanya, media massa adalah media yang disebarkan untuk massa. Massa sendiri berarti masyarakat luas yang tidak bisa diidentifikasi satu persatu. Massa bukan sekelompok orang ataupun organisasi sehingga jika ada media yang diperuntukkan untuk organisasi tertentu maka dia bukanlah pers.
Karena itu, jurnal ilmiah dan buletin komunitas tidak bisa digolongkan pers. Buletin yang digolongkan pers adalah buletin yang cara mengelolanya menggunakan teknik jurnalistik dan disebarkan kepada massa yang anonim, misalnya buletin kampus. Meskipun hanya lingkup kampus namun buletin ini sudah dikategorikan sebagai media massa, dengan kekhususan ‘massa’ yang ada di kampus.
2.  Melembaga
Pers tidak dikerjakan seorang diri karena perusahaan pers adalah perusahaan serius. Bagaimana bisa satu orang saja mengumpulkan data pemberitaan di lapangan, menulisnya, mengeditnya, melayout desain media, mencetak, menerbitkan, hingga menyebarkannya secara luas. Karena itu, banyak pakar menganggap keberadaan lembaga atau organisasi ini penting untuk menjadi karakteristik pers. Di dalam lembaga ada struktur organisasi yang bertanggung jawab apabila dibutuhkan. Sehingga ketika ada salah satu bagian yang melenceng maka bagian lainnya yang memiliki struktur lebih tinggi bisa memperingatkan atau memberi sanksi.
3.  Periodesitas
Periodesitas adalah jarak waktu penerbitan atau penyiaran pers. Hingga saat ini kita mengenal adanya pers yang terbit setiap hari atau biasa kita sebut harian, pers yang terbit seminggu sekali atau dua minggu sekali yang kita sebut surat kabar mingguan, dan ada pula yang bulanan. Yang paling mutakhir adalah media yang penerbitan beritanya bersamaan dengan peristiwa, yang disebut realtime. Biasanya media realtime ini yang tidak punya kendala percetakan, seperti televisi, radio, dan online.
Dengan syarat periodesitas ini maka media cetak yang diperuntukkan untuk masyarakat secara luas seperti buku tidak termasuk dalam pers. Buku bisa memenuhi fungsi pers yang lain, namun tidak untuk periodesitas. Karena buku hanya sekali terbit, ketika ada permintaan berlebih baru akan diterbitkan cetakan berikutnya. Hal ini berbeda dengan surat kabar yang akan terbit sesuai rentang waktu yang ditentukan bagaimanapun kondisinya.
4.  Universalitas
Pers juga harus memegang fungsi universalitas karena khalayak yang dijangkaunya terdiri dari berbagai kalangan. Beberapa media tertentu memang punya segmentasi pasar khusus untuk setiap pemberitaannya. Namun hal itu tidak menjadi alasan penerbitan pers tidak bersifat universal. Universalitas pers ini biasanya ditunjukkan oleh beragam pemberitaan yang terbagi dalam rubrik khusus.
Misalnya, secara umum sebuah pers terdiri dari berita politik, hukum, olahraga, budaya, feature, dan beberapa rubrik menyediakan khusus untuk partisipasi masyarskat seperti opini, sastra, dan surat pembaca. Dengan berbagai rubrik yang tercantum dalam pers ini, masyarakat yang membeli media itu tidak akan merasa bosan. Karena ada orang yang hanya menyukai berita olahraga, ada pula warga yang menyenangi berita politik atau sastra.
5.  Aktualitas
Ada dua pengertian aktual, pertama peristiwa yang baru saja terjadi, kedua peristiwa yang sebenarnya. Sehingga sebuah pers harus memuat berita-berita yang tidak basi dan bersumber dari kejadian yang betul. Saat ini seluruh pers berlomba-lomba memuat berita paling aktual untuk memenuhi kebutuhan informasi masyarakat. Misalnya informasi tentang demonstrasi yang dilakukan satu kelompok, bisa dilihat beritanya dalam waktu yang bersamaan melalui media televisi atau pun media online.

Bagaimana bila media menerbitkan berita yang kurang aktual? Ada beberapa alasan kenapa media masih memuat berita yang kejadiannya sudah lama. Alasan ini misalnya, karena kasus tersebut masih berproses atau masih terlihat dampaknya di masyarakat. Berita tentang korupsi bisa dijadikan contoh. Ketika seorang pejabat dicokok oleh KPK, maka media bisa langsung memuatnya. Tiga bulan berikutnya usai persidangan, berita mengenai putusan hukuman bisa buatkan lagi beritanya agar masyarakat mengetahui prosesnya.


0 komentar:

Post a Comment

Popular Posts

Popular Post

Label

. Teka Teki Logika Akrivitas Anak. Teka Teki Akrivitas Anak. Teka Teki Logika Akrivitas Anak. Teka Teki Matematika Aktivitas Perkembangan Balita Aktivitas anak Analogi Gambar Anda Bertanya Kami Menjawab Asuransi Bacaan Anak Balita Bermain Bermain dengan bayi Bermain sambil belajar Bidpai Biologi Brain Facts Brain Fitness Cat buatan sendiri Ceria Anak. Cerita rakyat Sulawesi Tenggara Cerita Rakyat Tibet Cerita Inspirasional Cerita Rakyat India Cerita Rakyat Jawa Barat Cerita Rakyat Jawa Timur Cerita Rakyat Jerman Cerita Rakyat Korea Cerita anak Cerita anak. Fabel Aesop Cerita rakyat Nepal Demokrasi Dongeng Ekonomi Fabel Aesop Fakta tentang Otak Filsafat Funny Kid Sayings Gambar Global Warming Google HAKI HAM Harga diri Hukum Hutan Ibu Baru Ide kreatif kamar anak Iseng Islam KIsah Inspirasi Kebugaran otak Kecerdasan Emosional Kecerdasan Logika-Matematika Kecerdasan Visua-Spasial Kecerdasan Visual Spasial Kesehatan Kisah Nasrudin Hoja Komputer Komunikasi Ortu dan Anak. Ketrampilan Orang Tua Koperasi Korupsi Kutipan Matematika Itu Gampang Maze. teka teki Mengenal Emosi Menggambar Langkah demi Langkah Mitologi Plus Nutrition facts Origami Pajak Pancasila Parenting Hacks Parenting Quotation Pemasaran Penelitian Pengetahuan Perkembangan Bayi Permainan Acak Kata Permainan besama bayi Pers Politik Polusi Psikologi Puzzle Quotaion Quotation Quotations Resep SEO Sosial Spot the difference Statistik Sudoku Sudoku untuk Anak Teja Teki Logika Teka Teki Teka Teki Angka Teka Teki Koin Teka Teki Logika Teka Teki Nama Kota Teka teki Matematika Teka teki korek api Teka-Teki Teka-Teki huruf Teki Teki Korek Api Tip Kehamilan Tip Orang Tua Anak Remaja Tip Parenting Tip Parenting Singkat Tip Rumah Tangga Tip keamanan anak Tips Mengubah Perilaku anak Tips Parenting Tips Parenting Balita Tips Parenting Lee Kuan Yew Tips Praktis Tips anak belajar Tips anak merengek. anak merengek Tips perawatan bayi Tips perilaku anak Trivia Tutorial Blog Wirausaha affiliate bayi menangis belajar menggambar buku kami cerita rakyat Kalimantan Tengah guest post hosting ilmu jQuery kecerdasan bahasa kecerdasan visual-spasial kutipan tentang ayah kutipan tentang ibu mata kuliah maze membaca untuk bayi membangun harga diri mp3 permainan angka sudoku poem produk kami public reltion puisi sejarah sambas slider teka teki Hewan template tips tips untuk orang tua tokoh inspiratif traffic video wordpress